persepsi dan memori

PERSEPSI

  1. A.   Pengertian Persepsi

 

Persepsi merupakan pengalaman yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi atau pesan. Persepsi terjadi setelah tahap sensasi berlangsung. Persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Pada tahap persepsi inilah proses kognisi berlangsung. Persepsi dipengaruhi oleh faktor atensi atau perhatian.

Persepsi sebagai proses bagaimana seseorang menyeleksi, mengatur dan menginterpretasikan masukan-masukan informasi untuk menciptakan gambaran keseluruhan yang berarti. (Kotler).

Persepsi adalah suatu proses pemberian arti atau makna terhadap lingkungan. Dalam hal ini persepsi mecakup penafsiran obyek, penerimaan stimulus (Input), pengorganisasian stimulus, dan penafsiran terhadap stimulus yang telah diorganisasikan dengan cara mempengaruhi perilaku dan pembentukan sikap. (Arindita Mangkunegara)

Deskripsikan persepsi dalam kaitannya dengan lingkungan, yaitu sebagai proses di mana individu-individu mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. (Robbins)
Persepsi seseorang merupakan proses aktif yang memegang peranan, bukan hanya terletak pada stimulus yang mengenainya tetapi juga terletak pada individu sebagai satu kesatuan dengan pengalaman-pengalamannya, motivasi serta sikapnya yang relevan dalam menanggapi stimulus. (Walgito)
Persepsi sebagai proses yang memungkinkan suatu organism menerima dan menganalisis informasi ( Brian Fellows ).

Persepsi adalah pengamatan tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan (Rakhmat)

Persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi ( Rudolp F.Verderber)

  1. B.   Jenis-jenis Persepsi

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu :

  • Persepsi visual

Persepsi visual didapatkan dari indera penglihatan. Persepsi ini adalah persepsi yang paling awal berkembang pada bayi, dan memengaruhi bayi dan balita untuk memahami dunianya. Persepsi visual merupakan topik utama dari bahasan persepsi secara umum, sekaligus persepsi yang biasanya paling sering dibicarakan dalam konteks sehari-hari.

  • Persepsi auditori

Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga.

  • Persepsi perabaan

Persepsi pengerabaan didapatkan dari indera taktil yaitu kulit.

  • Persepsi penciuman

Persepsi penciuman atau olfaktori didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.

  • Persepsi pengecapan

Persepsi pengecapan atau rasa didapatkan dari indera pengecapan yaitu lidah.

  1. C.   Proses Persepsi dan Sifat Persepsi 

Proses persepsi merupakan suatu proses kognitif yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, dan pengetahuan individu. Pengalaman dan proses belajar akan memberikan bentuk dan struktur bagi objek yang ditangkap panca indera, sedangkan pengetahuan dan cakrawala akan memberikan arti terhadap objek yang ditangkap individu, dan akhirnya komponen individu akan berperan dalam menentukan tersedianya jawaban yang berupa sikap dan tingkah laku individu terhadap objek yang ada. (Alport)

Walgito menyatakan bahwa terjadinya persepsi merupakan suatu yang terjadi dalam tahap-tahap berikut:

  • Tahap pertama, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses kealaman atau proses fisik, merupakan proses ditangkapnya suatu stimulus oleh alat indera manusia.
  • Tahap kedua, merupakan tahap yang dikenal dengan proses fisiologis, merupakan proses diteruskannya stimulus yang diterima oleh reseptor (alat indera) melalui saraf-saraf sensoris.
  • Tahap ketiga, merupakan tahap yang dikenal dengan nama proses psikologik, merupakan proses timbulnya kesadaran individu tentang stimulus yang diterima reseptor.
  • Tahap ke empat, merupakan hasil yang diperoleh dari proses persepsi yaitu berupa tanggapan dan perilaku.

Berdasarkan pendapat beberapa para ahli yang telah dikemukakan, bahwa proses persepsi melalui tiga tahap, yaitu:

  • Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
  • Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
  • Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.

Beberapa sifat yang menyertai proses persepsi, yaitu:

  • Konstansi (menetap): Dimana individu mempersepsikan seseorang sebagai orang itu sendiri walaupun perilaku yang ditampilkan berbeda-beda.
  • Selektif: persepsi dipengaruhi oleh keadaan psikologis si perseptor. Dalam arti bahwa banyaknya informasi dalam waktu yang bersamaan dan keterbatasan kemampuan perseptor dalam mengelola dan menyerap informasi tersebut, sehingga hanya informasi tertentu saja yang diterima dan diserap.
  • Proses organisasi yang selektif: beberapa kumpulan informasi yang sama dapat disusun ke dalam pola-pola menurut cara yang berbeda-beda.

Untuk memahami penjelasan tentang persepsi, akan diberikan contoh sebagai berikut:

Individu baru pertama kali menjumpai buah yang sebelumnya tidak dikenali, dan kemudian ada orang yang memberitahu kita bahwa buah itu bernama mangga. Individu kemudian mengamati serta menelaah bentuk, rasa, dan karakteristik dari buah itu secara saksama. Lalu timbul konsep mengenai mangga dalam memori individu. Pada kesempatan lain, saat menjumpai buah yang sama, individu akan menggunakan kesan-kesan dan konsep yang telah kita miliki untuk mengenali bahwa yang kita lihat itu adalah mangga.

  1. Asumsi-asumsi Mengenai Persepsi

Penyebab adanya asumsi-asumsi dalam persepsi :

  • Pola-pola prilaku berdasarkan persepsi mereka mengenai realitas yang telah dipelajari
  • Oleh karena perbedaan biologis dan pengalaman yang berbeda, tidak ada individu yang mempersepsi realias persis sama
  • Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi individu, maka semakin mudah untuk berkomunikasi
  • Faktor-faktor lingkungan biologis berubah
  • Adanya feed back yakni mekanisme untuk mengukur ketepatan persepsi

Menurut Kenneth K. Sereno dan Edward M Bodaken , persepsi terdiri dari tiga aktivitas, yaitu seleksi, organisasi dan interpretasi. Seleksi sendiri mencakup sensasi dan atensi. Dan intrepretasi melekat pada organisasi. Dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Ø Dalam sensasi , melalui pengindraan kita mengetahui dunia. Sensasi merujuk pada pesan yang dikirimkan ke otak lewat penglihatan, pendengaran sentuhan, penciuman dan pengecapan. Segala macam rangsangan yang diterima kemudian dikirimkan ke otak.
  • Ø Atensi tidak terelakkan karena sebelum kita merespon atau menfsirkan kejadian atau rangsangan apa pun, kita harus terlebih dahulu memperhatikan kejadian atau rangsangan tersebut. Ini berarti bahwa persepsi mensyaratkan kehadiran suatu objek untuk dipersepsi termasuk orang lain dan juga diri sendiri.
  • Ø Tahap terpenting dalam persepsi adalah interpretasi atas informasi yang kkta peroleh melalui salah satu atau lebih indera kita. Namun kita tidak bisa menginterpretasikan makna setiap objek secara langsung, melainkan menginterpreatasikan makna yang kita percayai mewakili objek tersebut. Jadi pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi bukan pengetahuan mengenai objek sebenarnya, melainkan pengetahuan  mengenai bagaimana tampaknya objek tersebut.
  1. E.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi


Thoha (1993) berpendapat bahwa persepsi pada umumnya terjadi karena dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berasal dari dlam diri individu, misalnya sikap, kebiasaan, dan kemauan. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar individu yang meliputi stimulus itu sendiri, baik sosial maupun fisik.

Faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi

  • Gerakan
  • Intensitas stimuli
  • Perulangan objek yang dipersepsi
  • Kontras
  • Prinsip kedekatan atau persamaan

Faktor internal yang mempengaruhi persepsi

  • Gender
  • Biologis
  • Fisiologis
  • Sosio-psikologis
  • Sikap
  • Kebiasaan
  • Kemauan

Meskipun individu-individu memandang pada satu benda yang sama, mereka dapat mempersepsikannya berbeda-beda.

Ada sejumlah faktor yang bekerja untuk membentuk dan terkadang memutar-balikkan persepsi. Faktor-faktor tersebut terdiri dari :

  • Pelaku persepsi (perceiver)
  •  Objek atau yang dipersepsikan
  • Konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan

Berbeda dengan persepsi terhadap benda mati seperti meja, mesin atau gedung, persepsi terhadap individu adalah kesimpulan yang berdasarkan tindakan orang tersebut. Objek yang tidak hidup dikenai hukum-hukum alam tetapi tidak mempunyai keyakinan, motif atau maksud seperti yang ada pada manusia. Akibatnya individu akan berusaha mengembangkan penjelasan-penjelasan mengapa berperilaku dengan cara-cara tertentu. Oleh karena itu, persepsi dan penilaian individu terhadap seseorang akan cukup banyak dipengaruhi oleh pengandaian-pengadaian yang diambil mengenai keadaan internal orang itu (Robbins, 2003).
Gilmer menyatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor belajar, motivasi, dan pemerhati perseptor atau pemersepsi ketika proses persepsi terjadi. Dan karena ada beberapa faktor yang bersifat yang bersifat subyektif yang mempengaruhi, maka kesan yang diperoleh masing-masing individu akan berbeda satu sama lain.

Oskamp membagi empat karakteristik penting dari faktor-faktor pribadi dan sosial yang terdapat dalam persepsi, yaitu:

a)  Faktor-faktor ciri dari objek stimulus.

b)  Faktor-faktor pribadi seperti intelegensi, minat.

c)  Faktor-faktor pengaruh kelompok.

d)  Faktor-faktor perbedaan latar belakang kultural.

Persepsi individu dipengaruhi oleh faktor fungsional dan struktural. Faktor fungsional ialah faktor-faktor yang bersifat personal. Misalnya kebutuhan individu, usia, pengalaman masa lalu, kepribadian,jenis kelamin, dan hal-hal lain yang bersifat subjektif. Faktor struktural adalah faktor di luar individu, misalnya lingkungan, budaya, dan norma sosial sangat berpengaruh terhadap seseorang dalam mempresepsikan sesuatu.
Dari uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor internal dan eksternal, yaitu faktor pemersepsi (perceiver), obyek yang dipersepsi dan konteks situasi persepsi dilakukan.

 

  1. F.    Aspek-aspek Persepsi

Pada hakekatnya sikap adalah merupakan suatu interelasi dari berbagai komponen, dimana komponen-komponen tersebut menurut Allport terbagi menjadi tiga yaitu:

  1. Komponen kognitif
    Merupakan komponen yang tersusun atas dasar pengetahuan atau informasi yang dimiliki seseorang tentang obyek sikapnya. Dari pengetahuan ini kemudian akan terbentuk suatu keyakinan tertentu tentang obyek sikap tersebut.
  2. Komponen Afektif
    Afektif berhubungan dengan rasa senang dan tidak senang. Jadi sifatnya evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan atau sistem nilai yang dimilikinya.
  3. Komponen Konatif
    Yaitu merupakan kesiapan seseorang untuk bertingkah laku yang berhubungan dengan obyek sikapnya.
  1. G.   Sikap dalam Persepsi

Baron dan Byrne, juga Myers (dalam Gerungan, 1996) menyatakan bahwa sikap itu mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap, yaitu:

  1. Komponen kognitif (komponen perseptual), yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, keyakinan, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap objek sikap.
  2. Komponen afektif (komponen emosional), yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap objek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif, sedangkan rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.
  3. Komponen konatif (komponen perilaku, atau action component), yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu menunjukkan besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap.

Rokeach (Walgito, 2003) memberikan pengertian bahwa dalam persepsi terkandung komponen kognitif dan juga komponen konatif, yaitu sikap merupakan predisposing untuk merespons, untuk berperilaku. Ini berarti bahwa sikap berkaitan dengan perilaku, sikap merupakan predis posisi untuk berbuat atau berperilaku.

Dari batasan ini juga dapat dikemukakan bahwa persepsi mengandung komponen kognitif, komponen afektif, dan juga komponen konatif, yaitu merupakan kesediaan untuk bertindak atau berperilaku. Sikap seseorang pada suatu obyek sikap merupakan manifestasi dari kontelasi ketiga komponen tersebut yang saling berinteraksi untuk memahami, merasakan dan berperilaku terhadap obyek sikap. Ketiga komponen itu saling berinterelasi dan konsisten satu dengan lainnya. Jadi, terdapat pengorganisasian secara internal diantara ketiga komponen tersebut.

  1. H.   Jenis Persepsi Manusia

Persepsi manusia sebenarnya terbagi dua yakni persepsi objek (lingkungan fisik) dan persepsi terhadap manusia. Persepsi manusia lebih sulit dan kompleks karena manusia berdifat dinamis. Persepsi terhadap lingkungan fisik berbeda dengan persepsi terhadap lingkungan sosial. Perbedaan tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut :

  • Persepsi terhadap objek ( lingkungan fisik )

Dalam mempersepsi lingkungan fisik, kita terkadanga melakukan kekeliruan. Kondisi mempengaruhi kita terhadap suatu benda. Misalnya ketika merasa kepanasan di tengah gurun. Kita tidak jarang akan melihat fatamorgana. Latar belakang pengalaman, budaya dan suasana psikologis yang berbeda membuat persepsi kita juga bereda atas suatu objek.

  • Persepsi terhadap manusia ( persepsi sosial )

Proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita

Kita mempersepsi orang melalui:

  1. Proxemics               : jarak ketika orang berkomunikasi
  2. Kinesis                    : Gerakan, isyarat
  3. Petunjuk wajah      : sedih, senang
  4. Paralinguistik         : dialek, bahasa, intonasi
  5. Artifaktual

Beberapa prinsip penting mengenai persepsi sosial yang menjadi pembenaran atas perbedaan persepsi sosial ini adalah sebagai berikut :

¯ Persepsi berdasarkan pengalaman

Pola-pola prilaku manusia berdasarkan persepsi mereka mengenai realitas (sosial) yang telah dipelajari. Persepsi manusia terhadap seseorang, objek atau kejadian dan reaksi mereka trehadap hal-hal itu berdasarkan pengalaman masa lalu.

¯ Persepsi bersifat dugaan

Proses persepsi yang bersifat dugaan itu memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna yang lengkap dari suatu sudut pandang manapun, karena informasi lengkap yang tak pernah tersedia, dugaan diperlukan untuk membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat penginderaan itu.

¯ Persepsi bersifat evaluatif

Tidak ada persepsi yang pernah objektif. Dengan demikian persepsi bersifat pribadi dan subjektif. Tidak seorang pun mempersepsi suatu objek tanpa mempersepsi seberapa baik atau buruk objek tersebut.

¯ Persepsi bersifat kontekstual

Rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Konteks rangsangan sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan sebab persepsi kita.

Dalam mengorganisasikan objek, yakni meletakkannya dalam suatu konteks tertentu, kita menggunakan prinsip-prinsip berikut:

¯ Prinsip Pertama : struktur objek atau kejadian berdasarakan prinsip kemiripam atau kedekatan dan kelengkapan.

¯ Prinsip kedua : kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan atau kejadian yang terdiri dari objek dan latar belakangnya.

  1. I.      Sebab Kekeliruan Persepsi
  • Kesalahan atribusi

Atribusi adalah proses internal dalam diri untuk memahami penyebab prilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya kita memperhatikan penampilan fisik mereka. Faktor seperti usia, gaya, pakaian, dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka.

Kesalahan atribusi bisa terjadi ketika kita salah menaksir makna atau pesan yang dimaksud perilaku pembicara. Perbedaan budaya semakin mempersulit kita untuk menaksir pesan seseorang. Atribusi kita juga keliru bila kita menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh faktor internal, padahal justru faktor eksternal yang menyebabkannya atau sebaliknya kita menduga faktor eksternal yang menggerakan seseorang.

  • Efek halo

Merujuk pada fakta bahwa kesan menyeluruh pada seseorang cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita. Kesan menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan.

  • Stereotipe

Menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai orang lain berdasarkan keanggotaannya dalam suatu kelompok. Pada umunya stereotipe bersifat neagtif. Stereotipe tidak berbahaya sejauh kita simpan di kepala.

  • Prasangka ( Prejudice )

Suatu penilaian berdasarkan keputusan atau pengalaman terdahulu.

Prasangka merupakan konsekuensi dari stereotipe. Sebagiamana stereotipe, prasangka ini alamiah dan tak terhindarkan. Hanya saja prasangka yang berlebihan dapat menghambat komunikasi.

  • Gegar Budaya

Gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri yang merupakan reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru.

  1. J.    Perbedaan Persepsi dengan sensasi

 

Istilah persepsi sering dikacaukan dengan sensasi. Sensasi hanya berupa kesan sesaat, saat stimulus baru diterima otak dan belum diorganisasikan dengan stimulus lainnya dan ingatan-ingatan yang berhubungan dengan stimulus tersebut. Misalnya meja yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari rabaan terhadap meja.

Sebaliknya persepsi memiliki contoh meja yang tidak nyaman dipakai menulis, saat otak mendapat stimulus rabaan meja yang kasar, penglihatan atas meja yang banyak coretan, dan kenangan di masa lalu saat memakai meja yang mirip lalu tulisan menjadi jelek.

  1. K.   Hubungan Antara Persepsi dan Komunikasi

Setelah mempelajari hal-hal dalam persepsi, lalu bagaimankah hubungan antara persepsi dan komunikasi. Dapat dijelaskan bahwa makna merupakan jantungnya komunikasi dan persepsi itu mempertajam komunikasi. Persepsi merupakan inti dari komunikasi sebab jika persepsi tidak akurat, maka komunikasi tidak akan berjalan secara efektif. Selain itu,akan menentukan kita memilih pesan dan mengabaikan pesan lain dan pastinya setiap orang memiliki persepsi yang berbeda.

MEMORI

 

 

  1. A.     Pengertian Memori

Memori adalah kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan dimasa yang akan datang. Pikiran manusia adalah pencipta makna.

Sejak mikrodetik pertama kita mendengar, melihat, mencicipi atau merasakan sesuatu, kita memulai suatu proses memutuskan benda apa itu, bagaimana hal itu terkait dengan apa yang telah kita ketahui, dan apakah hal itu penting diingat dalam pikiran kita atau harus dibuang. Seluruh proses ini mungkin terjadi dengan sadar, tidak sadar, atau keduanya.

 

  1. B.   Model Pengolahan Informasi

 

Informasi terus-menerus memasuki pikiran kita melalui indera kita. Kebanyakan informasi ini hampir langsung dibuang, dan kita mungkin bahkan tidak pernah menyadari. Sebagian ditahan dalam ingatan kita dalam waktu yang singkat kemudian dilupakan. Misalnya, kita mungkin mengingat nomor kursi tempat duduk dalam karcis bisbol hingga kita menemukan tempat duduk kita dam pada saat itu kita akan melupakan angka tempat duduk tersebut. Namun, sebagian informasi dipertahankan jauh lebih lama, barangkali sepanjang hidup kita.

Riset tentang ingatan manusia (lihat, misalnya, Anderson, 1995; Solso,2001) telah membantu para ahli teori pembelajaran menggambarkan proses yang menyebabkan informasi diingat (atau dilupakan). Proses ini, yang biasanya disebut sebagai model pengolahan informasi Atkinson-Shiffrin (Atkinson & Shiffrin, 1968).

  1. C.   Rekaman Indera

 

Komponen pertama sistem daya ingat yang ditemui informasi yang sedang masuk ialah rekaman indera. Rekaman indera (sensory register) menerima informasi dalam jumlah besar dari masing-masing indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, sentuhan, rasa) menahannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari beberapa detik. Kalau tidak ada yang terjadi pada informasi yang ditahan dalam rekaman indera, informasi tersebut akan cepat hilang.

Eksperimen yang cerdas telah digunakan untuk mendeteksi rekaman indera. Kepada seseorang diperlihatkan gambar seperti gambar di bawah, dalam waktu yang sangat singkat, 50 milidetik.

W

R

T

Z

S

H

N

L

D

J

F

X

Biasanya orang tersebut mampu melaporkan 3, 4, atau 5 di antara huruf tersebut, tetapi tidak untuk keseluruhan 12 huruf. Dalam suatu eksperimen awal klasik, Speerling (1960) menyajikan tampilan seperti itu kepada orang. Setelah tampilan itu menghlang, dia memberi israyat kapada orang yang melihatnya untuk mencoba mengingat baris atas, tengah dan bawah. Dia menemukan bahwa orang dapat mengingat ssetiap baris hampir dengan sempurna. Karena itu, mereka pasti telah melihat semua huruf dalam waktu 50 milidetik dan mengingatnya dalam waktu yang singkat.

Namun, ketika orang mencoba mengingat semua ke-12 huruf, waktu yang mereka perlukan untuk melakukannya ternyata melebihi jumlah waktu ketika huruf-huruf tersebut bertahan dalam rekaman indera mereka, sehingga mereka lupa dengan beberapa huruf tersebut.

Keberadaan rekaman indera mempunyai implikasi penting, yaitu :

  • Ø Persepsi

Ketika indera menerima rangsangan, pikiran langsung mulai mengerjakan beberapa di antaranya. Karena itu, citra indera  mana yang kita sadari tidak benar-benar sama dengan apa yang kita lihat, dengar, atau rasakan. Persepsi tentang rangsangan bukanlah sesederhana penerimaan rangsangan. Sebaliknya, hal itu melibatkan penafsiran pikiran dan dipengaruhi oleh keadaan pikiran, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lainnya.

  • Ø Perhatian

Ketika guru berkata kepada siswa “Berikan perhatian” atau “pinjami saya telinga kalian” mereka menggunakan kata berikan dan pinjami dengan benar. Sama seperti uang, perhatian adalah sumber daya yang terbatas. Ketika guru meminta siswa membelanjakan (mengggunakan) kemampuan perhatian mereka yang terbatas itu pada apapun yang dikatakan guru, siswa harus berhenti secara aktif untuk memberikan peerhatian pada rangsangan lain, dengan memindahkan prioritas meereka sehingga rangsangan-rangsanngan lain disaring.

  • Ø Memperoleh Perhatian

Ada beberapa cara untuk memperoleh perhatian. Salah satu cara ialah menggunkan isyarat yang menunjukkan “hal itu penting”. Cara lain untuk memperoleh perhatian ialah memberikan rangsangan yang tidak lazim, tidak konsisten atau mengejutkan juga menarik perhatian. Misalnya guru ilmu pengetahuan alam sering mendahului pelajaran dengan peragaan untuk memikat keingintahuan siswa.

  1. D.   Daya Ingat Jangka Pendek atau Kerja

 

Daya ingat jangka pendek (short-term memory) atau kerja adalah suatu sistem penyimpanan yang menampung lima hingga sembilan bit informasi setiap saat. Informasi yang disadari dan diberi perhatian oleh seseorang dipindahkan kekomponen kedua sistem daya ingat: daya ingat jangka pendek (Solso, 2001). Ini adalah bagian daya ingat yang menjadi tempat penyimpanan informasi yang saat itu sedang dipikirkan.

Aspek terpenting daya ingat jangka pendek bukanlah jangka waktunya, melainkan fakta bahwa daya ingat tersebut sedang aktif. Daya ingat kerja (working memory) adalah tempat pikiran mengolah informasi, mengorganisasikannya untuk disimpan atau dibuang, dan menghubungkannya dengan informasi lain.

Informasi dapat masuk ke dalam daya ingat kerja dari rekaman indera atau dari komponen dasar ketiga sistem daya ingat : daya ingat jangka panjang (long-term memory). Sering keduanya terjadi pada saat yang sama. Ketika kita melihat brung murai, rekaman indera memndahkan citra burung murai ke daya ingat kerja. Sementara itu, kita mungkin tanpa sadar mencari daya ingat jangka panjang untuk memperoleh informasi tentang burung sehingga kita dapat mengidentifikasi burung tersebut adalah burung murai.

Salah satu cara untuk menehan informasi dalam daya ingat kerja ialah memikirkannya atau mngatakannya berulang-ulang. Proses mempertahankan sesuatu dalam daya ingat kerja ini melalui repetisi disebut pengulangan (rehearsal) (Baddeley, 1999). Pengulagan berperan penting dalam pembelajaran karena makin lama sesuatu bertahan dalam daya ingat kerja, makin besar kemungkinan hal itu akan dipindahka ke daya ingat jangka panjang.

  • Ø Kapasitas Daya Ingat Kerja

Daya ingat kerja diyakini mempunyai kapasitas lima hingga sembilan informasi (Miller, 1956). Maksudnya kita dapat memikirkan hanya lima hingga sembilan hal yang berbeda setiap saat. Namun, setiap potongan dapat berisi banyak informasi. Kita dapat dengan mudah menghafal dengan menurut pola yang sudah dikenal.

  • Ø Perbedaan Masing-Masing Orang Dalam Daya Ingat Kerja

Masing-masng orang berbeda dalam kapasitas daya ingat kerja merka untuk menyelesaikan tugas belajar tertentu. Salah satu faktor utama dalam meningkatkan kapasitas ini ialah latar belakang pengetahuan. Makin banyak mengetahui tentang sesuatu, orang tersebut akan makin sanggup mengorganisasikan dan menyerap informasi baru (Engle, Nations & Cantor, 1990; Kuhara-Kojima & Hatano, 1991). Namun, pengetahuan sebelumnya bukanlah satu-satunya faktor. Masing-masing orang juga berbeda dalam kemapuan mereka mengorganisasikan informasi dan dapat diajari menggunakan strategi dengan sadar untuk membuat lebih efisien penggunaan kapasitas daya ingat kerja mereka (Levin & Levin, 1990; Peverly, 1991; Pressley & Harris, 1990).

  1. E.    Daya Ingat Jangka Panjang

 

Daya ingat jangka panjang adalah bagian sistem daya ingat yang menjadi tempat menyimpan sistem informasi dalam kurun waktu yang lama. Daya ingat jangka panjang dianggap sebagai penyimpanan yang berkapasitas sangat besar dan berdaya ingat sangat jangka panjang. Banyak ahli teori percaya bahwa kita mungkin saja tidak pernah melupakan informasi dalam daya ingat jangka panjang; sebaliknya, kita dapat saja kehilangan kemampuan menemukan informasi dalam daya ingat kita (daya ingat permanen) (Byrnes, 1996).

Ericson dan kintsch (1995) mengajukan hipotesis bahwa orang menyimpan bukan hanya informasi tetapi juga strategi belajar dalam daya ingat jangka panjang untuk mudah diakses. Long-term working memory ini menjelaskan kemampuan luar biasa para pakar (seperti ahli diagnosik kedokteran) yang harus mengimbangi informasi terkini dengan berbagai jenis pola yang terdapat dalam daya ingat jangka panjang mereka.

Karakteristik Komponen Sistem Penyimpanan Kognitif

Proses

Struktur penyimpanan Kode* kapasitas Jangka Waktu Penarikan Penyebab Kegagalan Mengingat
“Penyimpanan” Indera Ciri indera 12-20 jenis± hingga besar 250 milidetik-4 detik Lengkap, dengan adanya isyarat yang tepat Tertutup atau hancur
Daya Ingat Jangka Pendek Ciri indeera akustik, vsual, semantik yang diidentifikasi dan dinamai 7 ± 2 jenis Sekitar 12 detik: lebih lama dengan pengulangan Lengkap, dengan masing-masing jenis yang ditarik setiap 35 milidetik Penggusuran, gangguan, hancur
Daya Ingat Jangka Panjang Pengetahuan semantik dan visual, abstraksi; citra yang beermakna Sangat banyak, hampir tidak terbatas Tidak terhingga Informasi spesifik dan umum tersedia, dengan adanya isyarat yang tepat Gangguan, disfungsi organik, isyarat yang tidak tepat
*Bagaimana Informasi Disajikan

±Perkiraan

Sumber: Dari Robert R. Solso, cognitive Psychology, edisi keenam, hal. 240. Diterbitkan oleh Allyn & Bacon, Boston, MA. Hak Cipta © 2001 oleh Pearson Education. Dicetak ulang dengan ijin penerbit.

Para ahli teori membagi daya ingat jangka panjang setidaknya menjadi tiga bagian, yaitu :

  • Ø Daya Ingat Episodik

adalah bagian dari daya ingat jangka panjang yang menyimpan citra pengalaman pribadi kita. Daya ingat episodik sangat sulit diambil kembali, karena kebanyakan episode dalam kehidupan kita begitu sering diulangi sehingga episode-episode berikutnya akhirnya bercampur-baur dalam daya ingat dengan episode sebelumnya, kecuali terjadi sesuatu selama episode tersebut yang membuatnya sangat mudah diingat. Namun, ada suatu fenomena yang disebut daya ingat lampu kilat (flashbulb memory) dimana kejadian suatu peristiwa penting melekat dalam daya ingat yang terutama visual dan auditori dalam pikiran seseorang.

  • Ø Daya Ingat Semantik

adalah bagian dati daya ingat jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum. Daya ingat semantik atau deklaratif diorganisasikan dengan cara yang sangat berbeda. Daya ingat tersebut diorganisasikan secara mental dalam jaringan gagasan-gagasan yang saling tersambung atau hubungan-hubungan yang disebut skemata. Suatu skema adalah seperti garis besar, dengan konsep-konsep atau gagasan-gagasan yang berbeda yang dikelompokkan dalam kategori-kategori yang lebih besar. Satu implikasi teori skema yang jelas ialah bahwa informasi baru yang masuk ke dalam skema yang dikembangkan dengan baik disimpan jauh lebih cepat dripada informasi yang tidak masuk ke dalam skema.

  • Ø Daya Ingat Prosedural

bagian daya ingat jangka panjang yang menyimpan informasi tentang bgaimana melakukan sesuatu, khususnya tugas fisik. Jenis daya ingat ini disimpan dalam serangkaian rangsangan-tanggapan.  Misalnya, sekalipun kita belum naik sepeda dalam jangka waktu yang lama, begitu kita menaiki sepeda, rangsangan tersebut mulai menunjukkan tanggapan. Ketika sepeda tersebut miring ke kiri (rangsangan), kita secara “naluriah” memindahkan bobot badan kita ke kanan untuk mempertahankan keseimbangan (tanggapan).

 

Pada umumnya informasi berkurang sangat cepat dalam beberapa minggu pertama setelah pengajaran tetapi kemudian bertahan (Bahrick & Hall, 1991). Apapun yang diingat seseorang sekitar 12 hingga 24 minggu setelah diajarkan, semua itu mungkin akan bertahan selamanya.

 

 

  1. F.    Model-Model Pengolahan Informasi Lain

 

  • Ø Teori Tingkat Pengolahan (levels-of-processing theory)

Levels-of-processing theory  berpendapat bahwa orang menempatkan rangsangan pada tingkat-tingkat pengolahan mental yang berbeda-beda dan hanya menyimpan informasi yang telah menjalani pengolahan yang paling mendalam.

  • Ø Teori Kode Ganda Daya Ingat (dual code theory of memory)

Teori ini memprediksi bahwa informasi yang disajikan secara vsual maupun verbal diingat dengan lebih baik daripada informasi yang disajikan hanya dengan satu cara. Misalnya,kita mengingat wajah dengan lebih baik jika kita juga mengetahui nama.

  • Ø Model Pengolahan Sebaran Paralel (parallel distributed processing model)

Lewandowsky dan Murdock (1989) mendasarkan pada gagasan bahwa informasi diolah secara serempak dalam tiga bagian sistem daya ingat, yang masing-masing bagian mengerjakan informasi yang sama pada saat yang sama. Misalnya, ketika membaca alinea ini, kita tidak melihat masing-masing huruf, membentuknya menjadi kata dan makna, dan kemudian mengerjakannya dalam daya ingat jangka pendek untuk menyimpannya dalam daya ingat jangka panjang. Sebaliknya, kita langsung menggunakan informasi dalam daya ingat jangka panjang untuk menafsirkan kata-kata dan makna tersebut.

  • Model Koneksionis

Teori ini menekankan gagasan bahwa pengetahuan diismpan dalam otak dalam suatu jaringan koneksi, bukan dalam suatu sistem aturan atau dalam penyimpanan masing-masing potong informasi. Dalam pandangan ini, pengalaman menghasikan pembelajaran dengan memperkuat koneksi-koneksi tertentu, sering dengan mengorbankan koneksi-koneksi lain. Misalnya, seorang anak kecil mungkin sja mempelajari konsep “anjing” dengan melihat banyak binatang yang benar-benar tampak berbeda dan mendengarnya disebut “anjing” (Rumelhart & McClelland, 1986). Model koneksionis selaras dengan riset terkini tentang otak, yang telah membuktikan bahwa informasi tidak ditahan dalam satu lokasi manapun, tetapi didstribusikan dalam banyak lokasi dan disambungkan oleh jalur-jalur saraf yang ruwet (Solso, 2001).

  1. G.   Riset Tentang Otak 

 

Ilmuwan sekarang dapat mengamati bagian otak mana saja diaktifkan ketika seseorang mendengar simfoni, membaca buku, berbicara dalam bahasa kedua, atau menjawab soal matematika. Kemampuan ini telah menghasilkan ledakan riset tentang otak (Bransford, Brown & Cocking, 1999; Bruer, 1999; Goswami, 2004; Solso, 2001; Sprenger, 1999).

Telah lama diketahui bahwa fungsi mental tertentu dilaksanakan di lokasi tertentu dalam otak. Misalnya, penglihatan ditemukan tempatnya dalam korteks visual, pendengaran dalam korteks auditori. Namun, riset baru menemukan bahwa otak malah lebih trspesialisasi dari yang pernah dipikirkan sebelumnya. Otak belahan kiri lebih terlibat dalam bahasa, sedangkan belahan kanan lebih terlibat dalam informasi ruang dan non-verbal. Namun, walaupun ada spesialisasi aalm otak, hampir semua tugas yang kita lakukan melibatkan kedua belahan tersebut dan banyak bagian otak yang bekerja bersama-sama (Black, 2003; Saffran & Schwartz, 2003).

Temuan bahwa kapasitas otak tidak ditentukan sejak lahir, tetapi dipengaruhi poleh pengalaman dini, telah memberikan dampak yang sangat menggembirakan terhadap dunia riset dan kebijakan pendidikan masa usia dini (National Research Council, 2003). Lebih jauh, satu riset menyatakan bahwa pelatihan yang cukup luas dapat mengubah struktur otak, bahkan hingga massa dewasa. Misalnya, studi tentang supir-supir di London menemukan bahwa pelatihan mereka menyebabkan peningkatan kegiatan dalam bagian otak yang mengolah arah (Maquire et al., 2000).

Bagian-bagian otak :

  1. 1.   Lobus Frontal : perencanaan, penalaran, ekspresi emosi
  2. 2.   Korteks Motorik : pengendalian gerakan
  3. 3.   Korteks Somatosensori : tubuh, perasaan, sentuhan, suhu
  4. 4.   Lobus Parietal : persepsi, pengolahan ruang
  5. 5.   Lobus ocipital : pengolahan visual
  6. 6.   Serebelum : gerakan, kemampuan motorik
  7. 7.   Wilayah Wernicke : pemahaman bahasa
    1. 8.  Lobus Temporal : proses auditori pendengaran; pembelajaran, daya ingat, dan emosi
  8. 9.   Wilayah Broca : produksi ucapan

Temuan penting lainnya pada awalnya bertentangan dengan harapan. Hingga usia 18 bulan bayi menghasilkan sangat banyak saraf dan koneksi antar-saraf. Setelah masa itu, bayi mulai kehilangan saraf tersebut. Apa yang terjadi adalah bahwa otak membuang koneksi-koneksi yang tidak digunakan, sehingga koneksi yang tersisa akan bekerja efisien dan terorganisir dengan baik. Proses ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan di mana anak itu tinggal, dan terus hingga masa anak-anak. Keliatan otak atau kerentanannya untuk berubah oleh lingkungan berlangsung paling tinggi pada usia paling dini dan beerkurang lama-kelamaan (Kolb & Whishaw, 1998).

Temuan penting ketiga dalam riset otak ialah penemuan bahwa ketika seseorang memperoleh kemampuan dan pengetahuan, otaknya menjadi makin efisien. Misalnya, Solso (2001) membandingkan pengaktifan otak seorang seniman yang sudah ahli dengan otak seniman yang masih baru. Dalam tugas yang sudah tidak asing lagi dengan seniman tersebut menggambar wajah hanya sebagian kecil otaknya diaktifkan, sedangkan para pemula mempunyai kegiatan dalam banyak bagian otak mereka.

Dalam rangkaian studi lainnya, Eden et al. (1996) membendingkan pengaktifan otak anak-anak yang menderita disleksa dengan pengaktifan otak pembaca normal ketika mereka sedang membaca. Anak-anak yang menderita disleksia mengaktifkan wilayah auditori atau visual otak mereka, seolah-olah mereka harus menerjemahkan huruf-huruf tersebut dengan bekerja keras ke dalam bunyi dan kemudian bunyi ke dalam makna. Pembaca yang sudah mahir akan melompati tahap auditori seluruhnya. Perbedaan yang sama telah dituliskan antara anak-anak yang baru saja belajar membaca dan anak-anak yang sama setelah mereka menjadi pembaca yang baik (Turkeltaub et al., 2003).

Studi belakangan ini telah menemukan bahwa pembaca yang mahir terutama mengaktifkan tiga wilayah otak kiri. Sebaliknya, penderita disebut daerah broca yang mengendalikan pembicaraan. Dengan kata lain, pembaca yang buruk tampak menggunakan jalur yang tidak efisien (huruf ke pembicaraan ke pemahaman) sedangkan pembaca yang baik menggunakan jalur yang lebih efisien (huruf ke pemahaman).

Otak bukanlah lemari arsip untuk fakta dan kemampuan melainkan terlibat dalam proses pengorganisasian informasi untuk membuatnya dapat diakses dan digunakan dengan mudah. Proses pembuangan koneksi dan dengan selektif mengabaikan atau menyingkirkan informasi, dan juga proses membuat koneksi yang teratur  di antara informasi, mempunyai peran yang sama-sama penting, atau barangkali lebih penting, dengan menambah informasi.

APA YANG MEMBUAT ORANG MENGINGAT ATAU MELUPAKAN?  

Memori adalah kemampuan untuk menyimpan informasi sehingga dapat digunakan dimasa yang akan datang. Apabila informasi yang telah disimpan tidak dapat dipanggil kembali atau perlu waktu untuk mengingatnya kembali, berarti terjadi apa yang dinamakan dengan lupa.

  1. 1.  Mengingat Dan Melupakan

Selama bertahun-tahun, para peneliti telah mengidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan lebih mudah atau lebih sulit mengingat informasi (Schacer, 2001).

a)  Teori-teori lupa:

  • Ø Decay Theory
    Menurut teori ini, sebuah informasi yang telah disimpan didalam memory apabila tidak digunakan, informasi itu akan sulit dipanggil kembali. Karena meenurut teori ini memory akan semakin aus dengan berlalunya waktu.
  • Ø Interference Theory (gangguan)
    Menurut teori ini, sebuah informasi yang telah disimpan di Long Term Memory akan sulit dipanggil kembali karena terganggu oleh informasi-informasi lain (baru).
  • Ø Retrieval Failure
    Menurut teori ini, kegagalan untuk memanggil kembali sebuah informasi yang telah disimpan di karenakan tidak adanya petunjuk, maksudnya saat kita menerima sebuah informasi, kita tidak membuat petunjuk untuk mengarahkan kepada informasi tersebut, seperti dengan mengaitkan informasi tersebut dengan sesuatu yang bermakna bagi kita.
  • Ø Motivated Forgetting Theory

Menurut teori ini, seseorang akan melupakan sebuah informasi apabila saat dia menerima informasi tersebut, dia merasa informasi tersebut tidak/kurang bermakna bagi dirinya.

b)  Gangguan Fisiologis
Setiap penyimpangan informasi akan disertai berbagai perubahan fisik otak yang disebut dengan enggram. Gangguan pada enggram akan mengakibatkan lupa.

 

 

c)  Hambatan Retroaktif (retroactive inhibition)

Gangguan ini terjadiketika informasi yang dipelajari sebelunnya hilang karena informasi tersebut tercampur dengan informasi baru dan agak mirip. Misalnya, kesulitan mengenali huruf b hingga mereka diajari huruf d.

 

d)  Hambatan Proaktif (proactive inhibition)

terjadi ketika pembelajaran suatu bagian informasi mengganggu pembelajaran informasi berikutnya.

e)  Perbedaan Masing-Masing Orang Dalam Perlawanan Terhadap Gangguan 

Dalam suatu artikel tahun 1999, Demster dan Corkill meningkatkan kemungkinan bahwa kemampuan untuk memusatkan perhatian pada informasi utama dan menyaring gangguan merupakan inti kinerja kognitif. Dengan mengkaji riset dari banyak bidang, termasuk riset otak, keduanya mencatat hubungan yang kuat antara lankah-langkah perlawanan terhadap gagguan dan kinerja sekolah. Misalnya, di antara anak-anak yang mempunyai IQ serupa, orang-orang yang mempunyai kecacatan belajar tampil jauh lebih buruk dalam langkah-langkah perlawanan terhadap gangguan.

  1. 2.  Upaya Meningkatkan Kemampuan Ingatan
  • Fasilitasi proaktif

Peningkatan kemampuan untuk mempeljari iformasi baru akibat kehadiran informasi yang diperoleh sebelumnya

  • Faslitasi retroaktif

peningkatan pemahaman tentang informasi yang dipelajari sebelumnya akibat perolehan informasi baru

  • Retrieval (pengulangan)
    Dengan melakukan pengulangan-pengulangan terhadap sebuah informasi, diharapkan informasi tersebut dapat tersimpan dengan baik, sehingga saat kita membutuhkan informasi tersebut, kita dapat memanggil informasi tersebut.
  • Informasi yang akan diingat harus mempunyai hubungan dengan hal lain. Konteks (peristiwa, tempat, nama, perasaan tertentu) memegang peranan penting.
  • Mengorganisasi informasi sedemikian rupa sehingga dapat diingatkan kembali.

BAGAIMANA STRATEGI DAYA INGAT DAPAT DIAJARKAN?

 

Pembelajaran verbal : pembelajaran kata-kata (atau fakta yang diungkapkan dalam kata-kata)

  1. Pembelajaran pasangan berkaitan : pembelajaran sesuatu dalam pasanga yag berkaitan sehingga ketika salah satu anggota pasangan disajikan, yang lain dapat diingat.
  • Gambar : visualisasi mental pada gambar-gambar untuk meningkatkan daya ingat
  • Mnemonik : alat atau stategi untuk membantu daya ingat
  • Metode kata kunci : strategi untuk meningkatkan daya ingat dengan menggunakan gambar untuk mengaitkan pasangan istilah
  1. Pembelajaran serial : penghafalan serangkaian hal dalam suatu urutan tertentu.
  2. Pembelajaran ingatan bebas : pembelajaran daftar hal dalam urutan sembarang.
  3. Pembelajaran serial dan ingatan bebas :
  • Metode lokasi : suatu strategi untuk mengingat daftar dengan menggambarkan hal-hal dalam lokasi yang sudah tidak asing lagi
  • Metode kata patokan : suatu strategi untuk menghafal dimana gambaran digunakan untuk menghubungkan daftar kata dengan beberapa kata atau angka yang sudah dikenal dengan baik
  • Strategi huruf awal : strategi untuk belajar dimana huruf awal istilah yang akan dihafal dibuat menjadi kata atau frase yang lebih mudah diingat

 

APA YANG MEMBUAT INFORMASI BERMAKNA?

 

Informasi yang masuk akal dan mempunyai arti bagi siswa akan lebih bermakna daripada pengetahuan tidak aktif dan informasi yang dipelajari dengan hafalan. Menurut teori skema, pengetahuan bermakna masing-masing orang dibangun dari jaringan dan hirearki skemata.

  • Ø Pembelajaran Hafalan Versus Yang Bermakna

Ausubel (1963) membahas perbedaan antara pembelajaran hafalan buta dan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran hafalan (rote learning) merujuk pada mengingat fakta atau asosiasi, seperti tabel perkalian, simbol kimia untuk unsur-unsur, kata-kata dalam bahasa asing, atau nama-nama tulang dan otot dalam tubuh manusia. Banyak pembelajaran hafalan melibatkan asosiasi yang pada dasarnya sewenang-wenang. Sebaliknya, pembelajaran bermakna sifatnya tidak sewenang-wenang, dan hal itu terkait dengan informasi atau konsep yang sudah dimiliki pelajar.

  • Ø Penggunaan Pembelajaran Hafalan

Kadang-kadang kita memperoleh kesan bahwa pembelajaran hafalan adalah “buruk” dan pembelajaran yang bermakna adalah “baik”. Hal ini tidak selalu benar. Misalnya, ketika dokter memberitahu kita bahwa kita menderita tibia yang retak, kita berharap bahwa dokter tersebut telah menguasai kaitan hafalan antara “tibia” dan tulang kaki yang dinamainya. Penguasaan perbendaharaan kata bahasa asing adalah kasus penting dalam pembelajaran hafalan. Namun, pembelajarn hafalan telah memperoleh nama yang tidak baik dalam pendidikan karena cara itu terlalu banyak digunakan jika kita diajarkan untuk menghafal buta fakta yang seharusnya bermakna tetapi kita dipaksa untuk mempelajarinya sebagai informasi hafalan dan tidak bermakna. Jelas bahwa menghafal uinformasi tanpa mempelajari maknanya, informasi tersebut tidak berguna.

  • Ø Pengetahuan Lembam           

Pengertahuan lebam adalah informasi yang dipelajari yang seharusnya dapat diterapkan pada berbagai jenis situasi tetapi penggunaannya terbatas pada penerapan terbatas yang sering artifisial.  Biasanya, pengetahuan lembam terdiri atas informasi atau kemampuan yang dipelajari di sekolah yang tidak dapat kita terapkan dalam kehidupan. Banyak persoalan dalam kehidupan muncul bukan dari kekurangan pengetahuan  tetapi dari ketidakmampuan menggunakan pengetahuan yang telah kita miliki.

  • Ø Teori Skema

Teori ini menyatakan bahwa informasi disimpan dalam daya ingat jangka pnjang dalam skemata (jaringan fakta dan konsep yang saling terkait), yang memberikan struktur untuk memahami informasi baru. Prinsip terpenting teori skema adalah bahwa informasi yang cocok dengan skema yang ada jauh lebih mudah dipahami, dipelajari dan diingat daripada informasi yang tidak cocok dengan skema yang telah ada (Anderson & Bower, 1983).

  • Ø Hirearki Pengetahuan

Telah diajarkan bahwa kebanyakan skemata yang berkembang dengan baik diorganisasikan dengan hirearki yang mirip dengan kerangka, dengan informasi tertentu dikelompokkan dalam kategori umum, yang dikelompakkan dalam kategori yang kebih umum lagi.

  • Ø Peran Penting Pengetahuan Latar Belakang

Salah satu faktor penentu terpenting dalam mempelajari sesuatu ialah berapa banyak telah kita ketahui tentang hal itu (Alexander, Kulikowich & Jetton, 1994, 1995; Schneider, 1993). Peran penting ini digunakan untuk menyeleaikan masalah yang baru.

Bagaimana Kemampuan Metakognisi Membantu Siswa Belajar?

 

Kemampuan metakognitif  adalah metode untuk belajar, menelaah atau menyelesaikan soal. Metakognisi membantu siswa belajar dengan memikirkan, mengendalikan dan dengan efektif menggunakan proses pemikiran mereka sendiri.

Strategi Studi Apa Yang Membantu Siswa Belajar?

 

  • Ø Membuat Catatan

Strategi studi yang memerlukan keputusan tentang apa yang harus ditulis.

  • Ø Menggarisbawahi

Mengarisbawahi satu kalimat dalam masing-masing paragraf yang merupakan yang terpenting.

  • Ø Meringkas

Menuliskan kalimat-kalimat singkat yang mewakili gagasan utama informasi yang dibaca.

  • Ø Menulis Untuk Belajar

Menulis membuat siswa mengingat jauh lebih banyak. Studi ini menemukan bahwa tugas penulisan yang terfokus membantu anak-anak mempeljari isi yang sedang mereka tuliskan.

  • Ø Membuat Garis Besar Dan Memetakan

Pembuatan butir-butir utama bahan dalam format hirearkis serta pembuatan diagram gagasan utama dan kaitan di ataranya. Riset tentang pembuatan garis besar, jejaring dan pemetaan terbatas tidak konsisten tetapi pada umumnya dotemukan bahwa metode ini monolog sebagai alat bantu studi (Katayama & Robinson, 1998; Robinson & Kiewra, 1995).

  • Ø Metode PQ4R

Strategi studi yang meminta siswa melihat sekilas (preview), menanyakan (question), membaca (read), merenungkan (reflect), mengungkapkan kembali (recite), dan mengkaji ulang (review) bahan.

Daftar Pustaka

Gerungan, W. A. 1996. Psikologi Sosial. (edisi kedua). Bandung : PT Refika Aditama.

Kotler, Philip. 2000. Marketing Manajemen: Analysis, Planning, implementation, and Control 9th Edition, Prentice Hall International, Int, New Yersey

Mar’at, 1991. Sikap Manusia Perubahan Serta Pengukurannya. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Robbins, S.P. 2003. Perilaku Organisasi. Jilid I. Jakarta: PT INDEKS Kelompok Garmedia.

Rosyadi, I. 2001. Keunggulan kompetitif berkelanjutan melalui capabilities-based competition: Memikirkan kembali tentang persaingan berbasis kemampuan.
Walgito, Bimo. 2003. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset

TUGAS 1 DASAR-DASAR PEMAHAMAN PRILAKU

PERSEPSI DAN MEMORI

 

 

 

 

 

OLEH:

 

ANNISA FITRIANA                  1113052004

EKA AYU SUSANTI                 1113052013

ENDAH KUSUMA W                1113052016

M. NURUL IMAN                       1113052027

SISCA MARYA SUSANTI       1113052040

TARA MELA ANJASTUTI       1113052041

TIARA MELIZA                         1113052042

YULI NOVITA SARI                  1113052046

PENDIDIKAN BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2011/2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s